Gebang, Desa Pelestari Kesenian Barongan

Sanggar Kademangan, saat ini dipimpin Slamet Hadi Subeno. Sedangkan Kusumo Joyo dipimpin Hartono, dan Putro Turonggo Samudro dipimpin Zubaidi. Ketiga sanggar tersebut rata-rata pernah malang melintang di ajang pentas bertaraf nasional. Bahkan, Sanggar Barong Kademangan pernah menjadi duta Jawa Tengah untuk menggelar pentas di Malaysia, kota yang telah kami singgahi untuk menggelar pentas. Di antaranya Bandung, Jakarta, Surabaya, Medan, Yogyakarta, Magelang, Palembang dan masih banyak lagi. Lakon yang kami mainkan merupakan pakem asli Demak,” ungkap Slamet Hadi Subeno, pimpinan sanggar Kademangan.

Dia menjelaskan, kesenian barong Demak memang memiliki ke-khas-an tersendiri. Selain dari pakem ceritanya, yang membedakan barong Demak dengan lainnya nampak dari pakaian yang dikenakan. “Barong Demak menceritakan kaum ulama pada saat membuka hutan Glagah Wangi. Ceritanya, kaum ulama memperoleh perlawanan dari siluman penghuni hutan. Namun akhirnya, siluman itu berhasil dikalahkan dan justru mau diajak bersatu untuk menjadikan hutan sebagai cikal bakal Kerajaan Demak Bintoro,” terang Slamet.

Sedangkan dari segi pakaian, lanjut dia, barong Demak lebih menonjolkan unsur batik khas pesisiran. Motif batik pesisiran khas Demak yang biasa dipakai para pemain barong meliputi ulam segaran, semangka tegalan dan tiga rangsik. Semua motif itu rata-rata memiliki warna cerah mencolok.

Disampaikan pula, awal didirikan oleh Puji Atmoko pada tahun 1986, sanggar Kademangan hanya beranggotakan 20 orang. Seiring perkembangan waktu, anggotanya terus bertambah hingga kini mencapai 100 orang lebih. Sebagian besar anggota juga berprofesi sebagai nelayan. “Anggota sebanyak itu masing-masing memiliki peran yang berlainan. Ada yang sebagai penari kuda kepang, pemain barong, pengrawit, penari butonan dan narator,” ungkapnya.

Latihan dan Atraksi

Sanggar barong Kademangan memang paling laku alias selalu padat tanggapan. Maklum, penampilan mereka kompak nan atraktif. Atraksi yang mereka tampilkan pun tidak monoton. “Agar bisa kompak di setiap pentas, kami latihan rutin minimal tiga kali dalam seminggu. Setiap Jumat dan Sabtu, kami latihan di sanggar Greget Semarang,” kata Slamet.

Karena kompak itupula, tanggapan ke Kademangan selalu mengalir. Tanggapan biasanya datang dari orang yang punya kerja, seperti khitanan, pernikahan dan acara penyambutan pejabat. Nilai tanggapan berkisar antara Rp 3 juta hingga Rp 4,5 juta, tergantung jauh dekatnya lokasi pentas. “Setiap Bulan Besar tanggapan yang masuk sangat banyak. Setiap hari kami main. Bahkan terkadang, siang main, malam main lagi,” katanya.

Sementara itu, Hartono, pimpinan Sanggar Kusumo Joyo menambahkan, dalam setiap pentas para pemain barong selalu dituntut menampilkan berbagai atraksi. Di antaranya makan beling, silet dan jarum, serta pukul kepala dengan bata dan potong lidah. “Semua atraksi itu sama sekali tidak mengandung unsur magis. Itu semua berkat latihan dan sedikit menggunakan trik khusus,” tutur Hartono.

Dia juga menyampaikan, untuk menunjang pementasan diperlukan seragam dan sarana pokok yang memadai. Dalam hal ini, seluruh anggota group dilibatkan dalam pembuatan sarana tersebut. “Seragam, kuda kepang dan barongan kami buat sendiri. Untuk per stel seragam menghabiskan dana sekitar Rp 200 ribu. Sedangkan dua barongan habis Rp 10 juta. Kuda kepang, satunya habis Rp 100 ribu. Jika semuanya pesan pasti harganya jauh lebih mahal. Makanya kami buat sendiri,” ungkapnya. (sumber. www.demakkab.go.id)

3 komentar:

videonya mana gan..??? Kalo ada krim di email/fb ya....,

email: syarifudin_404@yahoo.co.id

Nick FB: Arief Newbie Symbianer's

coba cari di you tube mas, siapa tahu ada. soalnya saya dapat kiriman berita ini dari teman tanpa disertai videonya.

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More