Dinamika Perantau Morodemak



Kondisi menjelang tahun 80an keadaannya beda sekali dengan era tahun 90an, di tahun 90an keadaannya sudah berbeda dengan tahun 2000 dan itu selalu berkembang. Bagi yang mampu merekam jejak perjalanan waktu di tanah kelahiran kita Morodemak, tentu kita sadar bahwa perjuangan orang dahulu sangat berat, Intergrasi kita terbatas. orang merantaupun mayoritas berada di laut, Banyak perantau kita yang mencari tujuan kota terdekat seperti semarang yang sekarang sudah menjadi Tanjung emas, dan sebagian perantau itu tinggal di Tambak lorok dan Barutikung, lalu setelah TPI terbesar di jawa tengah beralih fungsi menjadi pelabuhan, banyak perantau nelayan Morodemak menyebar ke Pekalongan, Batang, Cilacap dan Rembang daerah ini adalah endemi para perantau Morodemak yang sampai saat ini masih bertahan dan menetap di sana.

Era 80an
Di era tahun 80an perantau Morodemak juga banyak yang memulai peruntungan sebagai penjahit ada juga yang jadi penjahat he...he... cuma satu, temannya yang banyak ha...ha....
Banyak yang berhasil dalam menggeluti dunia Taylor, di Jakarta di Pasar Ikan ada namanya Gaya Remaja Taylor punya Bapak Umar (alm) di tahun 70an sampai 80an namanya sudah berkibar di Jakarta Utara. juga Bapak Zaenal (alm) yang mengusung bendera PT.Batavia perusahaan ini lama menjadi mitra bisnis Bank Bali. Ternyata di semarang banyak pula tumbuh subur Taylor yang di kembangkan warga Morodemak. Ada juga kabarnya jadi dosen luar biasa di Jember Jatim.

Luar Jawa
Di era itu banyak sekali perantau yang sukses dalam mengembangkan usahanya Saiful Hadi yang sukses di Distribusi Buku yang sekarang tinggal di Jl.tanjung Raya II Komplek Cendana Permai Blok B No.30-31 Pontianak dan membuka tokonya di Jl.Pattimura Pontianak cukup berhasil di bidang buku.
Ada juga keluarga KH.Nur Hadi Bali yang rata-rata sukses di Bali. atas bimbingan beliau keluarga besarnya semuanya tergolong sukses di Bali, KH.Nur Hadi yang membuka pesantren di belakang Masjid Al Huda Tabanan Bali cukup di segani tidak hanya orang Islam orang Hindu Balipun banyak yang menaruh hormat padanya.
Di sekitar Jawa Tengah juga masih banyak orang Morodemak yang sukses seperti kyai Sonhaji yang membuka pesantren di kudus tergolong dari keluarga besar Morodemak yang sukses.

Era 90an
Pada era 90an ini eranya perubahan banyak perantau muda yang tidak punya bekal cukup berharap meraih peruntungan di perantauan, eat.. jangan salah banyak juga sarjana kita yang jadi dosen lho... coba aja ke IAIN Walisongo Semarang dan UNTAG ada orang kita yang berpengaruh di sana, di UIN Syarif Hidayatulloh Jakarta putra kyai Sonhaji juga ngajar di sana.di era itu banyak para pengusaha sukses sebut saja Ali Mashar & Musadad mantan kiper Team Morodemak  Gendero sukses sebagai pedagang sembako di cengkareng. di Batam anak-anak muda gesit mengembangkan kemampuannya, seperti Fuad yang sekarang menjadi Jurnalis di salah satu koran berpengaruh di Batam.

Tidak lupa di lampung ada Agus Mahfudz anak Bpk. Musyahadi yang ikut mengembangkan pesantren al-Hidayat milik mertuanya yang sangat luas di daerah Tegineneng, Pesawaran lampung selatan yang berbatasan dengan lampung tengah. di daerah ini kemampuan santri lulusan sarang ini akan di uji oleh keadaan yang mengharuskannya berfikir keras untuk memajukan daerahnya yang notbene adalah daerah multietnis. Di sini dia tidak sendiri ternyata ada keluarga besarnya yang ikut mengembangkan pesantren di daerah lain yaitu, Bumi Agung yang berjarak sekitar 200Km dari tempat tinggalnya yaitu Nur Laila putri pak Mari kampung kuburan gede. di sana Laila di daulat menjadi ketua muslimat Walisongo untuk wilayah Bumi Agung, Lampung. saling asah untuk memajukan daerah adalah salah satu seni dan kewajiban anak perantau.

Di Sunter ternyata komonitas Morodemak adalah paling besar di banding daerah lain, di sunter ini terdiri 25 orang yang aktif dan sekitar 20 orang pasif artinya 25 orang itu sudah menetap di sunter sekitar 20 orang belum menetap, sekitar 45 orang yang ikut mewarnai daerah sunter.

Di sunter ada Jam,iyah Manakib yang di pimpin oleh Ustadz Muhammad Taufiqurohman yang berdiri sekitar 2003 sampai sekarang masih Istiqomah, Kalau tidak ada halangan, para shobat bisa ikut manakib setiap Jumat kliwon di Masjid Nurul Qulub Jl.Ancol Selatan RT.14/07 Sunter Agung, Jakarta Utara. Jamaah manakib ini tersebar dari berbagai kalangan tidak hanya orang Demak saja tapi terbuka untuk umum. Ada juga Jamaah Sholawat Yaasiin yang di komandoi ustadz Zaqi bin KH. Shokib al-Hafidz yang di adakan setiap malam jumat keliling di masjid dan mushola di daerah sunter secara bergiliran.
Dinamika orang Morodemak memang mulai menemukan ritmenya manakala bisa berintegrasi dengan baik dan jujur pada diri sendiri dan mampu menjunjung toleransi.

0 komentar:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More